Mowea adalah bahasa daerah tolaki yg merupakan upacara ritual yg dilakukan dengan menyediakan berupa sesajian sakral yg dipersembahkan kepada roh halus penunggu makam agar tidak memberikan laknat dan petaka akibat penggambilan tanah diatas makam utuk kepentingan bangsa dan negara secara nasional.

Adapun peralatan upacara Mowea adalah 1 meter kain kaci warna putih dan 1 ekor ayam warna putih.

Tujuannya adalah 1 ekor ayam sebagai pengganti nyawa manusia atau pengganti tanah yg di ambil, sedagkan kain kaci sebagai pembungkus nyawa manusia.

Mowea ini dilakukan oleh seorang tokoh adat, agama, budaya yg menurut silsilah adalah keturunan dari Raja Lakidende yg berasal dari Tiora Ternate yang datang ke daerah Konawe dan ditempatkan di Desa Parauna Kec. Unaaha sebanyak 40 org, sehingga sampai saat ini merekalah yg berhak dimakam Raja Lakidende untuk melakukan kegiatan ritual atau Siarah kubur.

Apabila kegiatan dilakukan oleh bukan turunan Raja Lakidende, maka biasanya dikutuk dan akan terkena malapetaka.

Proses pengambilan tanah tersebut dilakukan berkaitan dengan 100 tahun kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang akan di upacarakan di Jakarta tanggal 20 Mei 2008. Tanah yang dibawah ke Monumen Pemuda tersebut dijadwalkan akan berada dan diserahkan di Jakarta pada tanggal 17 Mei 2008.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara Drs. H. Samudra Wasirih, M.Si berkenan menghadiri upacara penggambilan tanah di atas makan Raja Lakidende pada hari Sabtu tanggal 10 Mei 2008 di Kabupaten Unaaha Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada acara tersebut dihadiri pula oleh Sekda Kab. Konawe Ir. H. Mustarif, M.Si dan Dosen Sejarah dari Universitas Halu Oleh Drs. H. Sundu Bao, M.Sc.